Minggu, 19 Februari 2012

A Culture Education (Cross Culture Learning)

Bismillah...

Asssalamu'alaykum

Tepat seminggu lalu (maaf bahasa diganti dengan bahasa Ibu, next time I'll use English). Ya, tepat seminggu yang lalu saya untuk pertama kalinya dalam 19 tahun terakhir (seumur hidup-red) saya mendapatkan seorang pengajar lebih tepatnya seorang dosen yang berkebangsaan Amerika. Ketika dulu saya berpikir bahwa ketika saya diajari oleh orang asing maka muncul dua pertanyaan di benak saya:

1) Apakah dia bisa berbahasa Indonesia?
 jika tidak,
2) Apakah saya mampu memahami bahasanya?

Pertanyaan kedua selalu menghantui saya ketika nantinya di bangku kuliah benar-benar terjadi hal seperti itu (kala itu bahasa Inggris saya masih sangat-sangat lemah). Namun tepat seminggu lalu saya duduk di kelas dan melihat seorang pengajar saya dan dia seorang 'BULE'. Dan saya masih dihantui oleh pertanyaan kedua (walau kuliah di jurusan bahasa Inggris belum tentu jago bahasa Inggris 100%).

Namun ketika kelas dimulai semua hal yang saya bayangkan tidak begitu menghantui. Boleh dibilang seluruh ucapannya dapat saya mengerti. Mungkin pronounciation (pengucapan bahasa-red) beliau yang sangat membantu saya dan dengan mudah memahaminya.

'BULE' yang dimaksud adalah dosen mata kuliah saya. Di kelas saya beliau mengajar English Language Teaching Methodology atau ELTM (pelajaran tentang metode pengajaran bahasa inggris). Kami memanggilnya Mr. Kelley, nama panjangnya adalah Michael Kelley. Beliau berasal dari Michigan, USA. Pertama kali saya melihat beliau adalah ketika beliau menjadi imam di masjid kampus saya. Dan sekarang selama satu semester kedepan saya akan diajari olehnya.

Ada hal yang sangat bermanfaat ketika diajari oleh dosen 'bule' selain dari sisi pengetahuannya. Yaitu kita dapat mempelahjari karakteristik, budaya, dan kebiasaan orang asing. Kita tahu bahwa manusia diciptakan berbeda-beda dan mempelajari perbedaan itu sangatlah menyenangkan. Kala itu dia menerangkan kepada kami semua bahwa hal yang tidak sopan ketika masuk ke dalam kelas dan mengucapkan salam atau meminta maaf karena telat ketika dosen sudah ada di kelas. Dengan kata lain ketika kita telat maka hal yang baik dilakukan adalah 'nyelonong' masuk dan duduk manis. Sungguh sangat berbeda sekali dengan situasi kebudayaan di Indonesia. Jika seperti itu mungkin kita akan dibilang tidak sopan karena tidak meminta izin. Namun itulah sebuah perbedaan budaya. Cross culture learning.

Rawamangun, 20 February 2012

Tidak ada komentar: